Pages

Wednesday, May 30, 2012

Pola Perlawanan Rakyat Lemah

Pola Perlawanan Rakyat Lemah 

sumber: http://mrawaelamady.blogspot.com/2012/05/pola-perlawanan-rakyat-lemah.html

Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan  bahwa para antropolog mencoba menagkap phenomena pelawanan rakyat kecil terhadap kekuasaan yang sering lepas dari pengamatan para ilmuan politik dan penguasa. Bahwa tidak ada alasan bagi rakyat kecil untuk tidak melakukan perlawanan terhadap kekuasaan yang zalim. Kalau kekuasaan bisa dijatuhkan dengan gossip, fitnah, dongeng mengapa harus menguras enerji melakukan konflik secara terbuka 

Kajian ini dimulai sejak Foucault (1977, 1979, 1994) menawarkan konsep kekuasaan dan resistensi (perlawanan). Pemikiran kekuasaan dari Foucault tersebut mendapat tempat secara empirik melalui kajian James Scott (2000) Lila Abu-Lughod (1986) Peluso (2006) dan  Ong (1987).  Bahwa memahami kekuasaan harus dengan cara menyebar tidak hanya berbentuk otoritas semata. Begitu juga cara memahami konflik tidak lagi harus frontal bertemunya dua kekuatan secara langsung, tetapi perlawanan bisa dilakukan oleh siapa saja dalam bentuk yang bermacam-macam, baik secara simbolik maupun menghindar. Kekuasaan yang menyebar dan konflik yang semakin tidak langsung dan perlawanan yang semakin halus menjadikan resistensi semakin cultural.

Foucalut . melihat kekuasaan sebagai seluruh struktur yang menekan dan mendorong tindakan-tindakan lain melalui rangsangan, persuasi atau juga melalui paksaan dan larangan. Kekuasaan tidak datang dari atas ke bawah, tetapi menyebar di mana-mana baik pada individu, organisasi atau institusi. Kekuasaan metafisis yang dimilki seseorang akan membantu orang tersebut memaknai dirinya dan mengidentifikasi dirinya secara mandiri. Oleh karena itu, penyebaran kekuasaan tersebutlah memberi ruang kepada masyarakat yang lemah untuk melakukan resistensi dengan strategi yang dibangun pada konteks mereka sendiri. 

Anwar Holif (2006) mengindetifikasi resistensi Faucoult memiliki semangat yang sesuai dengan konteks dan ciri yang beragam. Resistensi bisa berupa wujud dua gerakan strategis yang kontradiktif, yaitu melakukan pemberontakan sedangkan yang lain malah mengisolasi diri. Karena manusia sebagai subjek kekuasaan, maka setiap manusia akan melakukan resistensi terhadap kekuasaan lain, tidak mesti berhadapan langsung. Kalau kekuasaan bisa dijatuhkan dengan gossip, fitnah, dongeng mengapa harus menguras enerji melakukan konflik secara terbuka. 
 Scott (2000) misalnya mencatat pola gerakan sosial sebagai sebuah perlawanan dipandang tidak mampu mewadahai bagian terpenting dari perlawanan kaum tani yang diekspresi melalui kerja seenaknya, mengelabui, taat yang dibuat-buat, mencuri kecil-kecilan, pura-pura bodoh, memfitnah, membakar rumah, menyabot dan seterusnya. Pada studi empiriknya terhadap petani di Kampung Sedaka Malaysia, Scott mengambarkan secara detail perlawanan kaum tani terhadap mesin permanen, dan menghindari persaingan dengan  sangat hati-hati, perorangan dan sembunyi-sembunyi. 
Kajian  Lila Abu-Lughod (1986) di Mesir menunjukkan bahwa perempuan Mesir melakukan perlawanan sehari-hari untuk menghindari kontrol dari keluarga dan lingkungannya. Kaum perempuan menghindar dan melakukan aksi tersembunyi melalui puisi yang bernada sindirian dan menjalin kerjasa sama dengan sesama perempuan. 
            Sementara kajian Ong (1987) menemukan bentuk perlawanan yang dilakukan perempuan pekerja pabrik di Pantai Selangor. Perempuan pekerja pabrik yang berada dibawah kekuasaan keluarga, pemilik pabrik, mandor, target produksi, di lawan dengan berlama-lama di taoilet, berlama-lama sembahyang, merusak alat produksi, dan apabila memuncak mereka melampiaskan dengan melihat hantu lalu kemasukan.  Walaupun resikonya mereka akan diberhentikan dari pabrik tersebut. 
            Studi Sosiologi Sejarah yang dilakukan oleh Nancy (2006) tentang perhutanan di Jawa menunjukkan bahwa pola-pola perlawanan masyarakat pinggir hutan jati. Mulai dari mencuri hutan, mengeroyok rimbawan, perempuan yang telanjang mencuri jati di sungai, dan gerakan kaum Samin yang tidur diatas tanah yang sedang diukur, berbicara dalam teka-teki dan menolak mengikuti ritual desa. 
Kajian-kajian diatas menunjukkan kepada kita bahwa masyarakat lemah mampu melakukan perlawan dengan cara dan konteks sosial mereka bukan hanya terhadap kekuasaan yang melemah tetapi justeru terhadap kekuasan yang sedang kuat. Hal ini disebabkan gejala resistensi tidak melihat kekuasaan hanya bersifat otoritas dari atas ke bawah, tetapi kekuasaan ada pada setiap orang tinggal bagaimana mengotimalkan kekuasaan tersebut untuk diri. 


Bacaan 
Abu-Lughod, Lila. 1986. Veiled Sentiments: Honor and Poetry in a Badouin Society. Berkeley, CA: University of California Press. 
Anna Lowenhaupt Tsing, 1998 Penerjemah Achmad Fedyani Saifudin, Dibawah Bayang-Bayang Ratu Intan; Proses Marjinalisasi Masyarakat Terasing, Yayasan Obor Jakarta.
Foucault, Michel,(1972)  Archaelogy of Knowledge, New York: Pantheon
Foucault, Michel,(1979) History of Sexuality, Vol 1: The Will to Truth, London: Penguin Lane.
Foucault, Michel,(1994)  Essentials Work of Michel Foucault, Vol 3: Power, London:Penguin Lane.
Foucault, Michel,(1980) Power/Knowledge, Selected Interviewa & Other Writing 1972-1977, New York: Pantheon
Holid,Anwar.  2006, “Membuat Peluang Mencari Peluang: Komunitas Tokoh Buku Alternatif, Literasi, Risestensi Gaya Hidup” dalam Aldin, Alfathri, 2006, Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas, Yogyayakarta. Jalasutra.
Nancy Lee Peluso, 2006, Penerjemah Landung Simatupang Hutan Kaya Rakyat Melarat; Penguasaan Sumberdaya dan Perlawanan di Jawa, Konphalindo, Jakarta 
Ong, Aiwa. 1987. Spirits of Resistance and Capitalist Discipline. Albany: SUNY Press 
Saifuddin, Ahmad Fedyani, 2005, Antropologi Kotemporer ; Suatu PEngantar Kritis Mengenai Paradigma, Jakarta, Prenada Media.
Scott, James, S, 2000, (terjemahan) Senjata Orang-Orang Kalah : Bentuk Perlawanan Sehari-hari Kaum Tani, Jakarta, Yayasan Obor

No comments:

Post a Comment